MENCARI STARTING POINT REVOLUSI MENTAL
OLEH:
JOKO BUDI SANOSO
Semoga pengembangan sistem meritokrasi kepegawaian berbasis kearifan lokal di Era Otonomi Daerah pada Studi Implementasi Kebijakan Pemberdayaan SDM Pemerintah kabupaten Indramayu, menjadi strating point revolusi mental bangkitnya kembali garuda nusantara.
Isu Nasional
Hot issue nasional yakni rindunya
bangsa ini akan gerakan revolusi mental. Gerakan ini ternyata sejauh ini belum
terlihat hasilnya secara signifikan, padahal upaya positif mengedukasi bangsa
ini bukan hanya di mulai pada era Presiden Jokowi saja tetapi sudah dilakukan
sejak jaman Ir. Soekarno. presiden pertama Republik Indonesia.
Belum beranjaknya posisi Indonesia ditengah daya saing global rasanya perlu
direfleksi melalui seuatu pendekatan dari prespektif pengelolaan SDM Indonesia.
Sumber daya manusia yang dimaksud dalam kajian ini adalah tertuju pada Aparat
Sipil sebagai aset bangsa. Bagaimana kompetensi mereka/ bagaimana pola
rekrutmen dan promosi jabatannya? Bagaimana pola pembinaannya? Bagaimana belanja kebutuhan pegaiwannya ? serta
bagaimana pula hak dan keawajibannya di dalam melaksankan tugas dan fungsinya.
Dalan kerangka berpikr ilmiah kita akan anologikan bahwa peneltian itu
tentunya ada masalah atau penyakitnya,
lalu kita cari obatnya dengan suata produk pendekatan ilmiah, dalam hal ini
obat yang dimaksud untuk menyembuhkan penyakit itu adalah sistem meritokrasi,/
sedangkan kabupaten indramayu adalah tempat yang diugga penyakit itu bersemayam.
Jadi penulis adalah melakukan pengamatan dan menemukan dugaan permaslahan lalu
mencari obatnya setelah ditetentukan tempat yang akan diobati/.
Mengutip George J,Gordon dalam bukunya yang berjudul Decision Making In administration bahwa ketika kita ingin mengerti
apa yang terjadi pada kesalah kebijakan yang telah dibuat oleh organisasi pada
lingkungan kecil, maka bisa meliat prilaku organisasi pada lingkungan yang
lebih besar. Karena jika kita hanya ada di wilayah itu maka kita terjebak pada prilaku yang
sempit pula. Hal ini akan mempunyai efek berbeda jia kita melihat prilaku
orgamisasi yang lebih besar, karena akan mengahsil ruang yang besar pula guna
memberi peluang untuk pengembangan ide atau gagasan yang lebih luas.
Berdasarkan pandangan ini maka penulis mencoba mengurai kesalahan-kesalahan
dalam pengelolaan yang dilakukan oleh para pegawai pemerintah daerah kabupaten
Indramayu, caranya dengan melihat
pengelolaan yang organisasi yang lebih besar baik secara nasional dan
internasional. Hal ini diharapkan bisa menemukan formulasi kebijakan dengan
meminimalisir kesalahan, disamping itu
juga dapat menjawab pertanyaaan pertanyaan evaluatif seperti: Bagaimana kesealahan membuat kebijakan itu
tidak berdampak buruk terhadap pelayanan publik? Bagaimana bentuk kearifan
lokal dalam mengelola sumber daya yang tersedia? Bagaimana mengoptimalkam potensi
daerah dalam meningkatkan daya saing dengan daerah lain?
Sitem meritokrasi serti apa di kembangkan
Pengembangan Sistem Meritokrasi
Kepegawaian Berbasis Kearifan Lokal perlu dicoba untuk di implementasikan
sebagai opsi menjawab pertanyaan itu. Caranya dengan mengintegrasikan pola
rekrutmen dan pembinaan Pemberdayaan SDM dalam Kebijakan Pemerintah daerah kabupaten
Indramayu di Era Otonomi Daerah dewasa ini.
Upaya untuk mengembangakan Sistem
Meritokrasi Kepegawaian Berbasis Kearifan Lokal adalah merupakan proses edukasi
yang dilakukan, ketika ditemui beberapa kesalahan dalam mengimplemtasi
kebijakan maka diperlukan perubahan cara pandang agar ditemukan apa yang pas
guna mencapai tujuan yang diharapkan. Bagaimana perubahan itu bisa dilakukan? Diperlukan
bebagai literasi sehingga perubahan itu dapat menjawab penyeban berbagai
keslahan selama ini.
Hollinger
(1985) yang mendefinisikan sejarah intelektual sebagai "wacana para
intelektual" (hlm. 131). Pendapat ini menekankan pada
sejarah dimana penjadi pembenaran terhadap langkah Perubahan. Proses perubahan
itu sendiri merupakan langkah bagaimana cara mengedukasi bangsa dalam
prespektif yang berbeda.
Mengutif Jurnal Universitas
William Paterson, Montcla 2019, bahwa Tujuan dari penelitianya adalah untuk melacak intelektual jangka
panjang dan langsung. Data ini membuat penulis berpikir bahwa diperlukan sebuah
konsep pendidikan jangka panjang yang terintegrasi pada sistem kurikulum yang
jelas digali dari sejarah. Sistem ini yang pada akhirnya dapat di perdalam pada
dimensi tata pengelolaan kekibijakan negara, dimana salah satunya adalah tetang
pendidikan pengembangan sumberdaya manuisa pada sektor pemerintahan
Sumbangan pemikiran Pengawas Sekolah
Sebagai
pengawas sekolah penulis memiliki tanggung jawab moral untuk menyumbangkan batu
bata pemikiran terhadap proses mengoncangkan kembali ingatan kita pada nilai esesi
pendidikan bangsa. Hal ini sejurus dengan semangat revolusi mental yang tenggah
digalakan, lalu ketika melihat banyak fakta yang menunjukan krisis
multidemesional, kiranya perlu dilakukan upaya-upaya perubahan dalam
mengedukasi bangsa.
Selanjutnya
dari jurnal ini penulis mendapat data bahwa perubahan gaya pendidikan itu juga dialakukan
karena didapat dokumen tentang wacana yang memunculkan ide gaya belajar, saat
di mana para sarjana menyimpang dari ras / etnis-bahasa tertentu. Informasi ini
mengilhami saya untuk membandingkan kondisi yang sama, yaitu kondisi dimana
para pegawai aparatur sipil negara dewasa ini diduga telah menyimpang didalam
menghantarkan tugas dan fungsi dalam dimensi prosesionalismenya. Kondisi ini
dapat dilahat dari kasus jula beli jabatan di berbagai wilayah nusantara.
Berdasarkan
hal ini penulis menarik benang merah terhadap fokus penelitian ini, yaitu pada masalah
perubahan gaya pendidikan dalam upaya Pengembangan Sistem
Meritokrasi Kepegawaian dengan Implementasi Kebijakan Pemberdayaan SDM Pemerintakab
Indramayu Berbasis Kearifan Lokal di Era Otonomi Daerah .
Kekhususan otonomi daerah
Otonomi daerah memberi peluang kabupoaten
Indramayu memilik kekhusan dalam membuat formulasi kebijakan daerah. Khekhusan
ini berikutnya penulis berikan istilah dengan kearifan lokal.
Pengertian kearifan lokal menurut S Swarsi,
adalah secara konseptual bahwa kearifan
lokal merupakan kebijakan manusia yang bersadar pada nilai-nilai, etika,
car-cara, dan prilaku yang melembaga secara tradisiona. Nilai yang dianggap
baik dan benar sehingga dapat bertahn dalam waktu yang lama bahkan melembaga (
Mariane, 2014). Berdasarkan pengertian ini penulis memngartikan bahwa kearifan
lokal yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebijakan apa yang dibuat
pemerintah kabupaten Indramayu dalam mengembangkan sumber daya manusianya.
Pendalaman kajian akan penulis kutip
pendapat Verawati Ade tahun 2016 dalam Jurnal pendidkan ilmu sosial
UPI bandung tahu 2016 yang berjudul Implementasi
nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Mengembangkan
Keterampilan Kewarganegaraan. Penelitian ini
memotivasi dampak globalisasi sehingga degradasi budaya dan kearifan lokal, kurangnya kesadaran dalam pelestarian budaya
dan nilai-nilai studi kearifan lokal bertujuan untuk menggambarkan bagian
budaya dari keterampilan kewarganegaraan, perilaku yang mencerminkan keterampilan
kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan pengembangan, kendala dan upaya
konservasi. Jadi perlu menilai nilai-nilai kearifan lokal sebagai keterampilan
sipil dalam budaya suku Talang Mamak.
Berdasarkan
jurnal ini penulis mencoba membuat perbandingan tentang; bagaimana budaya Indramayu
pada pola pemerintahan daerah? apakah Indramayu
terkena pula dampak globalisasi yang membuat kondisi kebatinan para pegawai
daerah hingga bersifat hedonis dan opurtunis? Seperti apa bentuk degradasi
budaya kearifan lokal indramayu? Apakah ada upaya secara sadar untuk pelestarian
budaya lokal dalam sistem birokrasi indramayu?/apakah mereka memiliki keterampilan
kewarganegaraan? Bagaimana mengembangkan ketrapilan kewarganegaraan? Apa yang
menjadi kendala tumbuhnya nilai kearipan lokal di indframayu/ Beberapa pertanyaan
evaluiatif ini nantinya akan dikaji lebih dalam diukur melalui implentasi
sistem meritokrasi pada pembinaan sumber daya manusia di pemerintahan guna
mendapat simpulan dari rumusan maslah penelitian ini melalui Pendekatan
kualitatif dengan metode deskriptif analitik.
Revolusi Mental dan Harapan
Paparan diatas memberi rasionalisasi
pemikiran bahwa bahwa Revulusi mental adalah sebuah harapan mengejawantahkan kerinduan bangsa Indonesia untuk kembali berjaya di
tanah nusantara, meskipun sejauh ini
belum terlihat hasilnya secara signifikan, walaupun upaya positif mengedukasi
bangsa sudah Presiden Jokowi bahkan sejak jaman Ir. Soekarno, maka diperlukan
perubahan gaya mengedukasi bangsa. Proses mengedukasi bangsa dapat dimulai pada
sektor Aparatur sipil penyelenggara negara. Semoga pengembangan sistem meritokrasi
kepegawaian berbasis kearifan lokal di Era Otonomi Daerah pada Studi Implementasi Kebijakan Pemberdayaan
SDM Pemkab Indramayu, menjadi strating
point revolusi mental bangkitnya kembali garuda nusantara.


Comments
Post a Comment