Skip to main content

BERFIKIR DALAM SUDUT PANDANG ONTOLOGI FENOMENOLOGI DAN AKSIOLOGI

BERFIKIR DALAM SUDUT PANDANG 
 ONTOLOGI  FENOMENOLOGI  DAN AKSIOLOGI
oleh : 
Joko Budi Santoso



   Dalam membangun kebijakan implementasi sitem meritokrasi pada Sumber daya manusia diperlukan rasionalitas  karangka berpikir, caranya ialah  bagaimana kita dapat menjelaskan melalui  terminologi ontologi, fenomenalogi, dan askiologis. agat kelogisan berpikirnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.  Hal yang ingin saya lakukan dalam kontek ini ialah membuat pertanyaan evaluatif  dan menjawabnya melalui sebuah penelitian dalam bentuk sumbangan batu bata pemikiran,  guna membangun kampung halaman  Kabupaten Indramayu.
    
Seperti apakah Tinjauan secara  Ontologi                          
            Pengertian Ontologi Menurut  bahasa, Ontologi  berasal dari  bahasa  Yunani  yaitu : On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak dari pengertian ini maka, Pengembangan Sistem Meritokrasi Kepegawaian Berbasis Kearifan Lokal di Era Otonomi Daerah akan diteliti melalui Studi Implementasi Kebijakan Pemberdayaan SDM berdasarkan    ultimate reality berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak pada Pemerintah kabupaten  Indramayu.
Ada beberapa pengertian ontology menurut para tokoh-tokoh filsafat digunakan  untuk memperkuat rasionalitas pemikiran penelitian ini diantaranya Suriasumantri (1985), yang berpandangan bahwa Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ;  apakah obyek ilmu yang akan ditelaah? bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut,?  bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti    berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
            Berdasarkan pandangan ini maka teori yang aka didalami adalah tentang meritokrasi dan teori yang iternalisasinya disektor publik seperti ; komunikasi, perubahan gaya belajar, prilaku budaya lokal, adiminsistrasi negara, pengelolaan Sumber daya Manusia, prilaku birokrasi, dan kebijakan publik. Sebagai objeknya adalah Pemerintah kabupaten  Indramayu untuk dapat membuahkan pengetahuan dari cara berpikir dan mengindra, sehinnga tuntutan publik akan hadirnya goood goverment dapat segera diwujudkan.
            Menurut Soetriono & Hanafie (2007), Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan. Pandangan ini penulis pakai untuk rasionalisasi penelitan bagaimana realita pengelolaan SDM pemerintah kabupaten Indramayu sebagai obyek formal.
            Menurut Pandangan The Liang Gie, Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan: Apakah artinya ada, hal ada? Apakah golongan-golongan dari hal yang ada? Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada? Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ? berdasarakan pandangan ini penulis akan meneliti berbagai kategori yang ada berkaitan dengan kebij realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal publanan rekrutmen pejabat publik di kabupaten Indramayu.

Secara Fenomenologi                                              
                Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, Phainoai, yang berarti ‘menampak’  dan phainomenonmerujuk pada ‘yang menampak’. Istilah fenomenologi diperkenalkan oleh Johann Heirinckh. Meskipun demikian pelopor aliran fenomenologi adalah Edmund Husserl. Jika dikaji lagi Fenomenologi itu berasal dari phenomenon  yang berarti realitas yang tampak. Dan logos yang berarti ilmu. Jadi fenomenologi adalah ilmu yang berorientasi untuk mendapatkan penjelasan dari realitas yang tampak
         Berdasarkan pandangan ini maka penulis mengalai data dari realitas yang ada di kabupaten Indramayu dan berbagai kondisi di daerah lainnya untuk memperkuat simpulan bagaimana kondisi ini untuk mengahasilkanm simpulang tentang pengembangan. Implementasi Kebijakan Pemberdayaan SDM Pemerintah kabupaten Indramayu Berbasis Kearifan Lokal di Era Otonomi Daerah.
Fenomenologi berusaha mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep penting dalam kerangka intersubyektivitas (pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain). (Kuswarno,2009:2). Hal inilah yang akan penulis lakukan untuk mengkonstruksi makna dan konsep meritokrasi dalam  Implementasi Kebijakan Pemberdayaan SDM Pemerintah kabupaten Indramayu Berbasis Kearifan Lokal di Era Otonomi Daerah
Fenomenologi berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasi pengelaman-pengelamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengelaman pribadinya (Littlejohn,2009:57). Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak dapat berdiri sendiri, karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran yang lebih lanjut. Tokoh-tokoh fenomenologi ini diantaranya Edmund Husserl, Alfred Schutz dan Peter. L Berger dan lainnya. Sejalan dengan hal ini maka pengalaman penulis sebagai pengawas sekolah dijadikan peluang untuk memahami dunia dengan pengelaman pribadi guna mengungkap Fenomena yang tampak dengan merefleksi realitas yang tidak dapat berdiri sendiri itu.
 Tujuan dari fenomenologi, seperti yang dikemukakan oleh Husserl, adalah untuk mempelajari fenomena manusia tanpa mempertanyakan penyebabnya, realitas yang sebenarnya, dan penampilannya. Husserl mengatakan, “Dunia kehidupan adalah dasar makna yang dilupakan oleh ilmu pengetahuan.” Kita kerap memaknai kehidupan tidak secara apa adanya, tetapi berdasarkan teori-teori, refleksi filosofis tertentu, atau berdasarkan oleh penafsiran-penafsiran yang diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, situasi kehidupan, dan kebiasaan-kebiasaan kita. Maka fenomenologi menyerukan zuruck zu de sachen selbst (kembali kepada benda-benda itu sendiri), yaitu upaya untuk menemukan kembali dunia kehidupan.
 Berdasarkan tujuan dari fenomenologi yang dikemukakan oleh Husserl tersebut maka, rasionalisasi yang diharapkan adalah bagaimana penelitian ini akan menggali informasi tentang kearifan lokan dalam kehidupan kinerja pegawai kabupaten Indamayu dalam kehidupannya berdasarkan filosofis meritokrasi, atau berdasarkan oleh penafsiran-penafsiran yang diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, situasi kehidupan,
Terdapat dua garis besar di dalam pemikiran fenomenologi, yakni fenomenologi transsendental sepeRti yang digambarkan dalam kerja Edmund Husserl dan fenomenologi sosial yang digambarkan oleh Alfred Schutz. Menurut Deetz (Ardianto,dkk, 2007:127) dari dua garis besar tersebut (Husserl dan Schutz) terdapat tiga kesamaan yang berhubungan dengan studi komunikasi, yakni pertama  dan prinsip yang paling dasar dari fenomenologi – yang secara jelas dihubungkan dengan idealism Jerman – adalah bahwa pengetahuan tidak dapat ditemukan dalam pengalaman eskternal tetapi dalam diri kesadaran individu.  Kedua, makna adalah derivasi dari potensialitas sebuah objek atau pengalaman yang khusus dalam kehidupan pribadi. Esensinya, makna yang beraal dari suatu objek atau pengalaman akan bergantung pada latar belakang individu dan kejadian tertentu dalam hidup. Ketiga, kalangan fenomenolog percaya bahwa dunia dialami – dan makna dibangun – melalui bahasa. Ketiga dasar fenomenologi ini mempunyai perbedaan derajat signifikansi, bergantung pada aliran tertentu pemikiran fenomenologi yang akan dibahas.
Berdarkan hal ini maka penulis berupaya akan menenemukan prinsip yang paling mendasar dalam komunikasi birokrasi di Indramayu dan berbagai daerah lainnya guna dapat mengimplematasikan pengembangan sumber daya manuisa bersarkan terminologi meritokrasi.
Fenomenologi Sosial Schutz sering dijadikan centre dalam penerapan metodelogi penelitian kualitatif yang menggunakan studi fenomenologi. Pertama,karena melalui Schutz-lah pemikiran dan ide Husserl yang dirasa abstrak dapat dijelaskan dengan lebih gamblang dan mudah dipahami. Kedua,  Schutz merupakan orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Dalam mempelajari dan menerapkan fenomenologi sosial ini, Schutz mengembangkan juga model tindakan manusia (human of action) dengan tiga dalil umum yaitu: The postulate of logical consistency (Dalil Konsistensi Logis). Ini berarti konsistensi logis mengharuskan peneliti untuk tahu validitas tujuan penelitiannya sehingga dapat dianalisis bagaimana hubungannya dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Apakah bisa dipertanggungjawabkan ataukah tidak. The postulate of subjective interpretation (Dalil Interpretasi Subyektif) Menuntut peneliti untuk memahami segala macam tindakan manusia atau pemikiran manusia dalam bentuk tindakan nyata. Maksudnya peneliti mesti memposisikan diri secara subyektif dalam penelitian agar benar-benar memahami manusia yang diteliti dalam fenomenologi sosial. The postulate of adequacy (Dalil Kecukupan)  Dalil ini mengamanatkan peneliti untuk membentuk konstruksi ilmiah (hasil penelitian) agar peneliti bisa memahami tindakan sosial individu. Kepatuhan terhadap dalil ini akan memastikan bahwa konstruksi sosial yang dibentuk konsisten dengan konstruksi yang ada dalam realitas sosial. Dalam pandangan Schutz memang ada berbagai ragam realitas termasuk di dalamnya dunia mimpi dan ketidakwarasan. Tetapi realitas yang tertinggi itu adalah dunia keseharian yang memiliki sifat intersubyektif yang disebutnya sebagai the life world.  Menurut Schutz ada enam karakteristik yang sangat mendasar dari the life world ini, yaitu pertama, wide-awakeness (ada unsur dari kesadaran yang berarti sadar sepenuhnya). Kedua, reality (orang yakin akan eksistensi dunia).Ketiga dalam dunia keseharian orang-orang berinteraksi. Keempat, pengelaman dari seseorang merupakan totalitas dari pengelaman dia sendiri. Kelima, dunia intersubyektif dicirikan terjadinya komunikasi dan tindakan sosial. Keenam, adanya perspektif waktu dalam masyarakat. Dalam the life wolrd ini terjadi dialektika yang memperjelas konsep ‘dunia budaya’ dan ‘kebudayaan’.  Selain itu pada konsep ini Schutz juga menekankan adanya stock of knowledgeyang memfokuskan pada pengetahuan yang kita miliki atau dimiliki seseorang. stock of knowledge terdiri dari knowledge of skills dan useful knowledge. stock of knowledge sebenarnya merujuk pada  content (isi), meaning (makna), intensity (intensitas), dan duration (waktu). Schutz juga sangat menaruh perhatian pada dunia keseharian dan fokusnya hubungan antara dunia keseharian itu dengan ilmu (science), khususnya ilmu sosial.  Schutz mengakui fenomenologi sosialnya mengkaji tentang intersubyektivitas dan pada dasarnya studi mengenai intersubyektivitas adalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana kita mengetahui motif, keinginan, dan makna tindakan orang lain? Bagaimana kita mengetahui makna atas keberadaan orang lain? Bagaimana kita dapat mengerti dan memahami atas segala sesuatu secara mendalam? Bagaimana hubungan timbal balik itu dapat terjadi?
 Selanjunya berdasarkan Jurnal Qualiitative Inquiry and Research Design  Realitas intersubyektif yang bersifat sosial memiliki tiga pengertian, yaitu: Adanya hubungan timbal balik atas dasar asumsi bahwa ada orang lain dan benda-benda yang diketahui oleh semua orang. Ilmu pengetahuan yang intersubyektif itu sebenarnya merupakan bagian ilmu pengetahuan sosial. Ilmu pengetahuan yang bersifat intersubyektif memiliki sifat distribusi secara sosial.
Ada beberapa tipifikasi yang dianggap penting dalam kaitan dengan intersubyektivitas, antara lain : Tipifikasi pengelaman (semua bentuk yang dapat dikenali dan diidentifikasi, bahkan berbagai obyek yang ada di luar dunia nyata, keberadaannya didasarkan pada pengetahuan yang bersifat umum).Tipifikasi benda-benda (merupakan sesuatu yang kita tangkap sebagai ‘sesuatu yang mewakili sesuatu’.Tipifikasi dalam kehidupan sosial (yang dimaksudkan sosiolog sebagai System, role status, role expectation, dan institutionalization itu dialami atau melekat pada diri individu dalam kehidupan sosial).
            Berbagai uraian diatas pendekatan frnomenalogi dajadikan kareangka guna membentuk rasionalisasi berfikir menumukan morfulasi kebijan yang tepat dalam mengimplematasikan pengembangan sumber daya manuisa bersarkan terminologi meritokrasi
Tijinauan Secara Aksiologis
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Pembahasan aksiologi menyangkut masala nilai kegunaan  ilmu. Jadi dalam rasionaloi penelitian ini bagiamana dapat diukur menggunakan prespektif  cabang filsafat tetang ilmu sector publik mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.dalam menjalankan fungsi sebagai pelayan publik. Sel;anjut nya peneliti juga menggalai teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas beberapa point diantaranya adalah : Pengertian Epistemologi,Metode Induktif,Metode Deduktif, Metode Positivisme,Metode Kontemplatif, Metode Dialektis.
 Penulis akan  memaparkan ini dan penjelasan yang sangat akurat dalam  Tujuan.Agar semua paham tentang definisi-definisi cabang ilmu filsafat dalam penelitian  ini, dapat menumbuhkan kebesaran jiwa di dalam etetika,estetika dan ilmu pengetahuan,     Agar dapat mempunyai pegangan hidup dalam berfilsafat
            Pada Akhirnya alur berpikir berdasarkan ontologis, fenemenalogis, dan asiologis ini, akan digunakan penulis agar dapat teruji secara akademis. Hal ini pula yang akan imenjadi kerangka berfikir untuk mneyelesiakan penelitian dengan mengkonstruksi makna dan konsep meritokrasi dalam  Implementasi Kebijakan Pemberdayaan SDM Pemerintah kabupaten Indramayu Berbasis Kearifan Lokal di Era Otonomi Daerah

Comments